Aru Makassar: Pergeseran Makna dari Sumpah Kesetiaan Prajurit ke Seremonial Sosial Kontemporer
Abstract
This study aims to analyze the transformation of the meaning of Aru, a traditional symbolic oath in Makassar culture, and to identify the socio-cultural factors influencing its shift from a sacred warrior’s pledge of loyalty to a contemporary ceremonial symbol. The research employs a qualitative descriptive approach with an ethnographic orientation. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with traditional leaders, cultural practitioners, and academics, as well as document analysis. The data were analyzed using thematic analysis, involving data familiarization, coding, categorization of themes, interpretation based on cultural symbolic theory, and conclusion drawing. The findings indicate that the meaning of Aru has undergone significant transformation due to modernization, changes in social structure, declining cultural literacy, and the commodification of cultural symbols. Consequently, Aru is increasingly positioned as an aesthetic and ceremonial element rather than a sacred cultural symbol rooted in historical and spiritual values. This study emphasizes the importance of cultural revitalization through education, documentation, and community-based cultural preservation to maintain the symbolic integrity of Aru in contemporary Makassar society.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi makna Aru, yaitu sumpah simbolik dalam budaya Makassar, serta mengidentifikasi faktor-faktor sosial budaya yang memengaruhi pergeserannya dari sumpah kesetiaan sakral prajurit kepada raja menjadi simbol seremonial dalam praktik budaya kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan orientasi etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, budayawan, dan akademisi, serta studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan analisis tematik melalui tahapan familiarisasi data, proses pengkodean, pengelompokan tema, interpretasi berdasarkan teori simbolik budaya, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergeseran makna Aru dipengaruhi oleh modernisasi, perubahan struktur sosial, rendahnya literasi budaya, serta komodifikasi simbol budaya. Akibatnya, Aru lebih banyak berfungsi sebagai elemen estetis dan seremonial dibandingkan sebagai simbol sakral yang mengandung nilai historis dan spiritual. Penelitian ini menegaskan pentingnya revitalisasi nilai budaya melalui pendidikan, dokumentasi, dan pelestarian berbasis komunitas untuk menjaga keutuhan makna simbol Aru dalam masyarakat Makassar kontemporer.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Ahmed, A. (2020). Culture and consumption. International Journal of Social Studies.
Ardiansyah, M., & Suryani, L. (2021). Ritualisasi budaya dan perubahan makna simbolik dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Jurnal Antropologi Sosial, 19(1), 55–68.
Arnould, E. J., Thompson, C. J., & Press, M. (2020). Consumer Culture Theory. Routledge.
Aswar, A. (2022). Tradisi Accera’ Kalompoang di Balla Lompoa Sungguminasa Kabupaten Gowa (Suatu Kajian Living Qur’an) [Skripsi, UIN Alauddin Makassar]. Repositori UIN Alauddin Makassar.
Cahyadi, D., & Karta, K. (2019). Makassar headdressed Passapu/Padompe. TANRA: Jurnal Desain Komunikasi Visual, 6(3), 100–110.
Eller, J. D. (2020). Cultural Anthropology: Global Forces, Local Lives. Routledge.
Harwandi, S., & Doewes, M. (2017). Paragagame sebagai olahraga tradisional komunitas Bugis-Makassar. European Journal of Physical Education and Sport Science, 3(3), 16–25.
Hasbi, M., & Lantara, N. A. (2023). Simbolisme dalam tradisi adat Makassar: Antara pelestarian dan dekonstruksi makna. Jurnal Ilmu Budaya, 21(1), 15–29.
Hidayat, R., & Pramono, A. (2022). Pergeseran nilai tradisi dalam masyarakat modern. Jurnal Sosiologi Budaya, 17(3), 201–215.
Jamilah, J., Sahnir, N., & Salawati, B. (2024). Strategi pelestarian Tari Maraga di tengah tantangan modernisasi dan globalisasi. In Prosiding Seminar Nasional LP2M UNM.
Kadir, A., & Abdullah, M. (2023). Transformasi ritual adat menjadi simbol seremonial dalam budaya Bugis-Makassar. Jurnal Kajian Budaya, 14(2), 90–104.
Kementerian Agama RI. (2020). Qur’an Kemenag. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Kramsch, C., & Uryu, M. (2020). Intercultural contact and symbolic systems. Routledge.
Latif, S., & Yusuf, M. (2024). Digitalisasi budaya lokal dan perubahan makna simbolik. Journal of Cultural Studies, 12(1), 33–47.
Mawaddah Rifayanti, N. G., Susanto, A., & Nur, T. (2023). Pemaknaan identitas budaya Bugis Makassar dalam film Tarung Sarung. Jurnal Bastra, 8(2), 237–248. https://doi.org/10.36709/bastra.v8i2.170
Mourhaidh, A. (2022). Nilai sosial budaya dalam film Tilik. Semiotika, 15(1), 18–29.
Mukresh, M., et al. (2025). Cultural transformation and commodification. Journal of Cultural Analysis.
Nasruddin, N. (2019). Assunna: Tradisi suku Makassar (studi antropologi budaya). Al Hikmah, 21(1), 180–212.
Nur, S. (2022). Transformasi simbol adat dalam masyarakat urban Makassar. Jurnal Sosial dan Budaya, 18(2), 44–58.
Nurfelt, N. A. P., Hasanuddin, M. R., Ramli, M. H., & Hadrawi, M. (2022). Nisan khas Bugis Bone: Pertemuan budaya lokal dengan Islam. Walennae: Jurnal Arkeologi Sulawesi Selatan & Tenggara, 20(2).
Putra, I. W., & Nasution, H. (2020). Komodifikasi tradisi dalam masyarakat kontemporer. Jurnal Humaniora, 32(2), 145–158.
Rachman, A., Baharuddin, & Saleh, M. (2021). Literasi budaya lokal pada generasi muda: Studi kasus Kota Makassar. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 25(3), 87–98.
Rachmat, R., Sumaryanto, T., & Sunarto, S. (2020). Klasifikasi instrumen gendang Bugis (gendrang) di Soppeng Sulawesi Selatan. Jurnal Pakarena, 3(2), 85–102.
Rahardi, R. K., Firdaus, W., Affandi, J., & Mrican, C. (2024). Pragmatic Meanings of Visual Socio-Political Multimodal Discourse in the Perspective of Critical Pragmatics. Journal of Pragmatics.
Rahim, F., & Malik, T. (2021). Tradisi, identitas, dan modernitas dalam masyarakat Indonesia Timur. Jurnal Ilmu Sosial Indonesia, 18(2), 99–113.
Ram, P. (2026). Commodification of Ethnic Cultural Symbols. Springer.
Sinulingga, J., & Situmorang, R. (2025). Symbolic meaning and commodification. Jurnal Bahasa dan Budaya.
Suartika, G. A. M., et al. (2020). Cultural commodification in heritage. ISVS Journal.
Susmihara, S. (2016). Kemajuan budaya masyarakat Makassar abad XVII. Jurnal Adabiyah, 16(1), 60–69.
Syahrir, I., & Musakkir, A. (2024). Komodifikasi budaya dalam era digital: Studi simbol tradisional Sulawesi Selatan. Jurnal Komunikasi Budaya, 11(1), 30–42.
Testa, A., & Isnart, C. (2020). Reconfiguring tradition. Ethnologia Europaea.
Ulviani, M. (2024). Bahasa kias dalam sastra daerah di era digital. AIKOMEDIA Press.
Ulviani, M. (2025). Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa Indonesia untuk penguatan karakter siswa. Zenodo. https://doi.org/-10.5281/zenodo.17445722
Ulviani, M. (2026). Kritik sastra dalam lanskap pendidikan bahasa Indonesia kontemporer: Integrasi semiotika, ekokritik, feminisme, dan transformasi digital dalam pembelajaran. Zenodo. https://doi.org/10.5281/zenodo.19228077
Wibisono, B. (2020). Komersialisasi budaya: Analisis dampak terhadap tradisi. Prosiding Seminar Nasional LP2M UNM.
Yuliana, A., & Karim, F. (2021). Simbol dan makna dalam tradisi lokal: Perspektif Clifford Geertz. Jurnal Antropologi Indonesia, 42(2), 120–134.
Refbacks
- There are currently no refbacks.



.png)