SAWERIGADING, Vol 30, No 1 (2024)

Tubuh sebagai Resistansi Subaltern dalam Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam Karya Dian Purnomo

Hanifa Widyas Sukma Ningrum, M. Yoesoef, Melani Budianta

Abstract


This study examines the subaltern issues that befall female characters in the novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam (2020) by Dian Purnomo. The subaltern issue is motivated by the captured marriage culture in Sumba, Indonesia, which harms women. In connection with the capture marriage culture, women's bodies become  essential   to  their lives. This research aims to reveal the subaltern position of Sumba women in the novel. The theory used to analyze is Gayatri Chakravorty Spivak's Subaltern theory. The method used in this research is a qualitative approach using a close reading method. The results found that the body is used as a resistance tool for Sumba women in voicing their subaltern position. Sumba women do not hesitate to use the body as an entity that can be harmed so that their voices are heard by society. Thus, Sumba women as subalterns continue to look for ways to echo their voices, not least by threatening their own lives.

 

Abstrak

Penelitian ini mengkaji isu subaltern yang menimpa tokoh perempuan dalam novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam (2020) karya Dian Purnomo. Isu subaltern dilatarbelakangi oleh budaya kawin tangkap di daerah Sumba, Indonesia, yang merugikan perempuan. Berkaitan dengan budaya kawin tangkap, tubuh perempuan menjadi aspek penting dalam kehidupan mereka. Tujuan penelitian ini mengungkapkan posisi subaltern perempuan Sumba dalam novel. Teori yang digunakan untuk menganalisis adalah teori Subaltern milik Gayatri Chakravorty Spivak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif metode close reading. Hasil penelitian menemukan bahwa tubuh digunakan sebagai alat  resistansi perempuan Sumba dalam menyuarakan posisi subaltern mereka. Perempuan Sumba tidak segan menggunakan tubuh sebagai entitas yang dapat dilukai agar suara mereka didengar oleh masyarakat. Dengan demikian, perempuan Sumba sebagai subaltern terus mencari cara untuk menggaungkan suara mereka, tidak terkecuali dengan cara yang mengancam nyawa mereka sendiri.