SASTRA DALAM MASYARAKAT YANG BERUBAH: CATATAN TENTANG PERAN DAN FUNGSI ARTEFAK BUDAYA YANG TERKERDILKAN
Abstract
This writing attempts to observe literary work as an artefact of Indonesian culture and to compare its role and functions both in the past traditional society and in the present modern one. The analysis reveals that the role and functions of literary work in the past traditional society are greater than that of in the present modern one. Today its role and functions in the contemporary society have been deappreciated and marginalized out of the mainstraim ofpeople's cultural life. This is due to the strong influence of materialism and pragmatism that discards moral, ethical and spiritual values which are the soul of Indonesian culture. It is suggested that in order to revitalize the role and functions of literary work as a cultural artefact that could greatly contribute to the strengthening process of national identity and character a realistic holistic approach be taken. It is also expected that both formal and informal education institutions be supported and facilitated to increase the youth's appreciation towards this almost-forgotten spiritual capital
Abstrak Tulisan ini mencoba mengulas sastra sebagai salah satu artefak budaya Indonesia dan membandingkan peran serta fungsinya pada masyarakat tradisional masa lalu dan masyarakat modern masa kini. Analisis artikel ini menunjukkan bahwa peran dan fungsi sastra pada masyarakat tradisional masa lalu lebih besar daripada peran dan fungsi sastra pada masyarakat modern masa kini. Dewasa ini peran dan fungsi artefak budaya itu telah mengalami deapresiasiasi dan marginilisasi dari arus utama kehidupan budaya masyarakat. Hal ini disebabkan oleh besarnya pengaruh materialisme dan pragmatisme yang menafikan moral, etika, dan nilai-nilai spiritual yang merupakan roh kebudayaan Indonesia. Disarankan bahwa untuk merevitalisasi peran dan fungsi sastra sebagai artefak budaya yang dapat memberi sumbangsih bagi proses peneguhan jati diri dan karater bangsa, diperlukan adanya suatu pendekatan yang bersifat holistik. Di samping itu, lembaga formal dan lembaga informal pendidikan perlu didorong dan difasilitasi untuk meningkatkan apresiasi generasi muda agar lebih mencintai modal jiwani yang sudah mulai terlupakan ini.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Horton, Paul B dan Hunt, Chester L. 1987. Sosiologi. Terj: Nunding Ram dan Tita Sobari. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Kayam, Umar. 1991. Kebudayaan Nasional, Kebudayaan Baru. Makalah Kongres Kebudayaan 29 Oktober--3 November 1991. Panitia Kongres Kebudayaan. Jakarta.
Piliang, Amir Yasraf.2011. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batasbatas Kebudayaan. Bandung: Pustaka Matahari.
Prawiro, Mulyono D.2009."Paradigma Baru Pembangunan Sosial". Gemari X Edisi 106.
Ratna, Nyoman Kutha. 2012. "Antropologi Sastra: Penggunaan Teori dan Metode secara Eklektik dan Metodologi Campuran". Pustaka Jurnal Ilmu-ilmu Budaya. Vol.XII. No.1.
Rendra, WS. 1992. Makalah Kongres Kebudayaan 29 Oktober--3 November 1993. Panitia Kongres Kebudayaan, Jakarta.
Rosidi, Ajip. 1992. Kesusastraan Indonesia: Dimensi Rohani yang Hilang yang Harus Dikembalikan, Dalam Tantangan Kemanusiaan Universal. Penyunting: Moedjanto,dkk. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Siregar, Ashadi. 2013. Menuju Bangsa Tanpa Sastra, Pidato Kebudayaan dalam peluncuran Majalah Sastra Sabana, Yogyakarta.
Soeroso, Amiluhur dan Susilo, Y.Si. 2008. "Strategi Konversasi Kebudayaan Lokal". Jurnal Manajemen Teori dan Terapan. Tahun 1 No.2.
Sutrisno, Sulastin. 1992. Sastra Melayu dalam Pengajaran Sastra. Penyunting: Moedjanto, dkk.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Refbacks
- There are currently no refbacks.




.png)