Simbol-Simbol dalam Tuturan Ritual Singgi’ Tedong Pada Upacara Merok Dalam Budaya Toraja Symbols Used in the Ritual Speech of ’Singgi Tedong’ of Merok Ceremony in Torajan Culture

Naomi Patiung, Simon Sitoto, Yeheschiel B. Marewa, Agussalim Waangsir

Abstract

 

This article aims to explain the symbols of body parts of buffalo in Singgi' Tedong. Data were obtained using the scrutinized technique, i.e. carefully reading the text 'Singgi' Tedong', identifying, and recording the required data, then translating the text from Torajan into Indonesian. Besides, an in-depth interview technique with Tominaa (traditional experts) and other community figures was carried out to obtain relevant data. From 20 speech in the form of written text, the writer took 15 utterances about the body parts of buffalo selected using purposive sampling technique. These data were analyzed using a descriptive qualitative approach based on Saussure's (1988) semiotic theory to explain the use of sign systems to produce meaning through interpretation. The results of the research show that the body parts of the buffalo in Singgi' Tedong have symbols that have metaphorical meaning about various aspects of Torajan human life, such as symbols about position, function, status, etc. of the family group that carries out the Merok ceremony.

 

Abstrak

Tulisan ini bertujuan menjelaskan simbol-simbol bagian tubuh kerbau dalam Singgi’ Tedong. Data diperoleh dengan cara metode simak (scrutinized technique) yaitu membaca secara saksama teks ‘Singgi’ Tedong’, mengidentifikasi dan mencatat data-data yang dibutuhkan kemudian menerjemahkan teks dari bahasa Toraja ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, teknik wawancara yang mendalam (in-depth interview technique) terhadap tominaa (ahli adat) dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya dilakukan untuk memperoleh data yang relevan. Dari 20 teks tuturan, penulis mengambil sampel sebanyak 15 macam tuturan bagian tubuh kerbau yang dipilih dengan menggunakan purposive sampling technique. Data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berdasarkan teori semiotika Saussure (1988) untuk menjelaskan penggunaan sistem tanda untuk menghasilkan interpretasi makna. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bagian-bagian tubuh kerbau dalam Singgi’ Tedong  memiliki simbol yang bermakna metaforis tentang berbagai aspek kehidupan manusia Toraja seperti simbol-simbol tentang kedudukan, fungsi, status, dan lain-lain dari rumpun keluarga yang melaksanakan upacaran Merok.

 

 

Full Text:

PDF

References

Ada’, J. L. (2014). Aluk to Dolo Menantikan Tomanurun dan Eran di Langi’ Sejati.Yogyakarta: Gunung Sopai

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bahagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan La Galigo. 1986/1987. Transliterasi dan Terjemahan Singgiq (Hasil Sastra Lisan Adat Istiadat Toraja).

Fiske, J. (2010). Cultural and Communication Studies: sebuah Pengantar Paling Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.

Hidayat, A. A. 2006. Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Jakautama, K. D., & Bustam, M. R. (2022). Denotative And Connotative Meaning in the Sentence of “You Got Me Feeling Like a Psycho” as the Line of Red Velvet Song Lyric. Mahadaya: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 2(2), 207-212. https://doi.org/10.34010/mhd.v2i2.7803

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2002. Balai Bahasa: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Lisa, P. M. L. 2013. Entekstualisasi dan Kontekstualisasi pada Tuturan Ritual Mangrara Banua di Toraja. Library of Unhas.http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/8071

Manta’, Y. (2011). Sastra Toraja. Kumpulan Kada-Kada To Minaa dalam Rambu Tuka’-Rambu Solo’ (edisi tambahan). Toraja Utara: PT Sulo.

Monika, S. 2017. Fungsi dan Makna Tuturan Ritual Rampanan Kapaq di Toraja. Magistra: Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 4(1), 43-53. https://doi.org/10.35724/magistra.v4i1.612.

Moleong, L. J. 2017. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya,

Nurhaena. (2009). Singgi’ Toraya, Rantepao: PT Sulo.

Noth, W. (2006). Semiotik (Handbook of Semiotics). Surabaya: Airlangga University Press.

Palebangan, F. B. (2007). Aluk, Adat, dan Adat Istiadat Toraja. Rantepao: PT Sulo.

Patiung, N. (2023). Local Wisdom in the Philosophy of TalluLolona of Torajan Culture and Its Implementation in the Society. International Journal of Science and Research (IJSR), 12(11), 1055-1062. https://www.ijsr.net/articlerating.php?paperid=SR231106054411

Patiung, N. (2007). Simbol-Simbol dalam Teks Badong Bahasa Toraja dan Ekuivalensinya dalam Bahasa Indonesia: Kajian Semiotika. (Sebuah Tesis, Universitas Hasanudin). :Makassar.

Rapoport, D. (2014). Nyanyian Tana Diperciki Tiga Darah. Paris: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) Ecole Franqaise d’Extreme-Orient Ford Foundation Forum Jakarta. https://www.academia.edu/6405197/Nyanyian_Tana_Yang_Diperciki_Tiga_Darah_Seni_Suara_dan_Ritus_Ritus_toraja_Sulawesi_Indonesia_

Ricoeur, P. (2014). Teori Interpretasi (Membelah Makna dalam Anatomi Teks). Yogyakarta: IRCiSoD.

Sobur, A. (2004). Semiotika Komunikasi. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya

Sandarupa, S., Simon P., & Simon S. (2016). Kambunni’Kebudayaan Tallu Lolona Toraja. Makassar: Dela Macca.

Sandarupa, S. (2013). Deictic Sistem Dalam Pendekatan Toraja (Suatu Pendekatan semiotik). Makassar: Universitas Hasanuddin.

Sandarupa, S. & Dirk R. S. (2024). Filosofi Tallu Lolona A’pa Tauninna. Klaten: PT Nugraha Media.

Searle, J. R. (2020). Semiotics as a Theory of Representation. Part of Teoria e Critica della Regolazione Sociale/Theory and Criticism of Social Regulation, 49-58. https://www.mimesisjournals.com/ojs/index.php/tcrs/article/view/589Sibarani, R. (2014). Kearifan Lokal (Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan. Medan: Penerbit Asosiasi Tradisi Lisan.

Suardana, I. K. (2024). Filsafat Bahasa sebagai Semiotika Sosial. Sumatera Barat: CV Mitra Cendikia Media

Surnata, S., Nufus, H., Alam, K., & Agustini, E. (2021). Semiotika Rambu-Rambu Lalu Lintas Laut. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Daerah, dan Asing, 4(2), 443-456. https://doi.org/10.31540/silamparibisa.v4i2.1387

Sande’, J.S., dkk. (1997). Tata Bahasa Toraja. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sulasman, H., & Setia G. (2013). Teori-teori Kebudayaan (dari Teori hingga Aplikasi). Bandung: Pustaka Setia. http://kin.perpusnas.go.id/DisplayData.aspx?pId=123243&pRegionCode=UNTAR&pClientId=650

Tammu, J. & Van D. V. H. (2016). Kamus Toraja-Indonesia. Rantepao: PT. Sulo.

Tanduk, R. (2016). Teks Tuturan Sebagai Tradisi Upacara Adat di Toraja. Prosiding Seminar Nasional dan Dialog Kebangsaan dalam rangka Bulan Bahasa. Universitas Hasanudin: Makassar. http://repository.unhas.ac.id:443/id/eprint/8071

Tanduk, L., & Novrianto. (2019). ”Tuturan Massomba Tedong Pada Upacara Rambu Tuka’ Di Toraja Utara: Kajian Semiotika”. Sebuah Tesis. Makassar: Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Tanduk, R., Darwis, M., Maknun, T., & Usman, M. (2016). Symbolization of Meaning of Singgi’Tedongin Traditional Ceremony “Merauk Tongkonan RambuTuka’” at Tana Toraja. International Journal of Science and Research, 5(12), 2036-2042. http://repository.ukitoraja.ac.id/id/eprint/519

Zeshan, U. (2015). “Making Meaning”: Communication Between Sign Language Users without a Shared Language. Cognitive Linguistics, 26(2), 211-260. https://doi.org/10.1515/cog-2015-0011

Zhou, Z., Chen, K., Li, X., Zhang, S., Wu, Y., Zhou, Y., & Chen, J. (2020). Sign-tospeech translation using machine-learning-assisted stretchable sensor arrays. Nature Electronics, 3(9), 571-578.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.